Laporan ini merangkum hasil Partisipatory Land Use Planning (PLUP) yang dilakukan di Desa Sepatin, Kabupaten Anggana, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. PLUP atau Tata guna lahan partispatif bertujuan untuk melakukan pendekatan perencanaan pemanfaatan lahan partisipatif menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam perencanaan pengembangan wilayah mereka. Metode ini memastikan bahwa pembag…
Adanya Panduan Analisa Kebijakan Pengelolaan Risiko Terpadu ini membantu organisasi masyarakat sipil di Indonesia maupun pihak-pihak lainnya untuk lebih memahami konsep dari pendekatan Pengelolaan Risiko Terpadu yang digunakan oleh PfR Indonesia ini dan juga membantu memudahkan kerja-kerja advokasi kebijakan terkait isu-isu tata kelola bencana, perubahan iklim dan juga degradasi lingkungan yang…
Dokumen ini disusun berdasarkan kerjasama antara Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia (Kemenko-Kemaritiman RI), Yayasan Lahan Basah (wetlands International Indonesia), dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang merupakan bagian dari Kelompok Kerja (Pokja) Penyusunan Peta Jalan (Road Map) Mitigasi dan Adaptasi Amblesan (subsiden) Tanah di Dataran Rendah Pesisir Tahun 2019.…
Buku berjudul Potensi Aplikasi Struktur Permeabel ini dibuat berdasarkan observasi dari beberapa lokasi struktur permeabel, namun sebagian besar mengangkat contoh struktur permeabel yang dikembangkan oleh BwN di Kabupaten Demak. Buku ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada khalayak luas akan potensi penggunaan struktur permeabel bagi Pengelolaan Risiko Bencana secara Terpadu di Kawasan P…
Buku ini mengulas penerapan pendekatan Building with Nature (Membangun dengan Alam) di wilayah pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sebagai respons terhadap masalah erosi pantai, banjir rob, dan kehilangan daratan yang parah. Sejak 2015 hingga 2021, pendekatan ini dikembangkan melalui kemitraan publik–swasta yang dipimpin oleh Pemerintah Indonesia, Wetlands International, dan Ecoshape, sebag…
Iklim ekstrem di masa lalu merupakan kebiasaan baru saat ini. Kita harus beradaptasi dengan suatu keadaan di mana iklim kurang dapat diprediksi dan, dalam banyak hal, kurang menguntungkan daripada sebelumnya di masa lalu. Apabila kita tidak meningkatkan upaya adaptasi secara signifikan, kita akan menanggung beban bagi manusia dan beban sosial yang sangat berat: penambahan sebanyak 100 juta or…
Perubahan iklim dan krisis ketahanan wilayah pesisir telah meningkatkan kerentanan dataran rendah, khususnya akibat kenaikan muka laut, perubahan pola curah hujan, urbanisasi pesat, serta ekstraksi air tanah yang berlebihan. Kondisi tersebut memicu penurunan muka tanah yang signifikan di kota-kota pesisir, terutama di Semarang, Demak, dan Pekalongan, yang berdampak pada meningkatnya risiko banj…
Climate change and the coastal resilience crisis have increased the vulnerability of low-lying areas, particularly due to sea-level rise, changes in rainfall patterns, rapid urbanization, and excessive groundwater extraction. These conditions have triggered significant land subsidence in coastal cities, especially in Semarang, Demak, and Pekalongan, resulting in heightened risks of flooding, co…
Mangroves are critical ecosystems, bridging land, freshwater, and sea. They host tremendous diversity and protect and provide for countless coastal communities around the world. This 2024 edition of The State of the World’s Mangroves highlights the tremendous advances that have been made on multiple fronts to safeguard these ecosystems. It showcases progress in: science and understanding; col…
Perluasan budidaya udang telah menyebabkan kerusakan hutan mangrove secara global, membuat garis pantai tropis rentan terhadap erosi dan banjir. Membangun infrastruktur perlindungan seperti tanggul sangat mahal, sehingga pendekatan Building with Nature menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan murah. Di Indonesia, proyek Building with Nature Indonesia di Demak memperkenalkan sistem Ass…
Untuk para praktisi publik dan swasta dan pengelola zona pesisir, pedoman ini menawarkan pendekatan bertahap praktis sepanjang siklus proyek, mulai dari kelayakan hingga implementasi dan pemeliharaan jangka panjang. Panduan ini juga membantu memastikan bahwa Anda menyadari dan mengadopsi pendekatan praktik terbaik dan terus meningkatkan dan beradaptasi dalam menanggapi perkembangan dinamis sesu…
Building with Nature integrates Nature-based Solutions into water and marine engineering practice. To make nature the fundament of the solution, a paradigm shift is needed in in all aspects of project development. One of the main barriers to mainstream adoption is unfamiliarity with the Building with Nature approach. This guideline aims to help users to understand how to apply the approach and…
Nature-inclusive infrastructure design is neither simple nor straightforward and very little guidance is yet available. To truly make use of ecosystem services and to conserve or restore natural processes and functions, the natural system needs to be well understood. This technical guideline provides a guide to better understand the coastal system, to know what processes to consider and what ex…
This technical guideline discusses the application of permeable structures as a close-to-nature and sustainable solution to increase sedimentation along eroded coastlines to allow re-colonisation of mangroves and thus a stabilization of the intertidal area. Mangrove recolonization using permeable structures is currently being applied in Central Java (Indonesia), in the Mekong Delta (Vietnam,…
This guideline is part of a series of Technical Guidelines on technical and socio-economic Building with Nature measures that, in combination, help to restore eroding tropical muddy coasts. These guidelines are based on insights and lessons learnt during the implementation of a district scale pilot in Central Java as part of the Building with Nature Indonesia programme. By sharing our lessons …