Perubahan iklim dan krisis ketahanan wilayah pesisir telah meningkatkan kerentanan dataran rendah, khususnya akibat kenaikan muka laut, perubahan pola curah hujan, urbanisasi pesat, serta ekstraksi air tanah yang berlebihan. Kondisi tersebut memicu penurunan muka tanah yang signifikan di kota-kota pesisir, terutama di Semarang, Demak, dan Pekalongan, yang berdampak pada meningkatnya risiko banj…
Climate change and the coastal resilience crisis have increased the vulnerability of low-lying areas, particularly due to sea-level rise, changes in rainfall patterns, rapid urbanization, and excessive groundwater extraction. These conditions have triggered significant land subsidence in coastal cities, especially in Semarang, Demak, and Pekalongan, resulting in heightened risks of flooding, co…
Mangroves are critical ecosystems, bridging land, freshwater, and sea. They host tremendous diversity and protect and provide for countless coastal communities around the world. This 2024 edition of The State of the World’s Mangroves highlights the tremendous advances that have been made on multiple fronts to safeguard these ecosystems. It showcases progress in: science and understanding; col…
Perluasan budidaya udang telah menyebabkan kerusakan hutan mangrove secara global, membuat garis pantai tropis rentan terhadap erosi dan banjir. Membangun infrastruktur perlindungan seperti tanggul sangat mahal, sehingga pendekatan Building with Nature menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan murah. Di Indonesia, proyek Building with Nature Indonesia di Demak memperkenalkan sistem Ass…
Untuk menstabilkan garis pantai yang terkikis, digunakan struktur permeabel yang memperlambat aliran air dan ombak, sehingga memungkinkan sedimen menumpuk dan memfasilitasi rekolonisasi alami mangrove. Struktur ini cocok di garis pantai berlumpur dengan banyak sedimen tersuspensi, dan biasanya berbentuk pagar dari tiang dan ranting. Meski sederhana secara teknis, penerapannya memerlukan desa…
Untuk para praktisi publik dan swasta dan pengelola zona pesisir, pedoman ini menawarkan pendekatan bertahap praktis sepanjang siklus proyek, mulai dari kelayakan hingga implementasi dan pemeliharaan jangka panjang. Panduan ini juga membantu memastikan bahwa Anda menyadari dan mengadopsi pendekatan praktik terbaik dan terus meningkatkan dan beradaptasi dalam menanggapi perkembangan dinamis sesu…
Building with Nature integrates Nature-based Solutions into water and marine engineering practice. To make nature the fundament of the solution, a paradigm shift is needed in in all aspects of project development. One of the main barriers to mainstream adoption is unfamiliarity with the Building with Nature approach. This guideline aims to help users to understand how to apply the approach and…
Nature-inclusive infrastructure design is neither simple nor straightforward and very little guidance is yet available. To truly make use of ecosystem services and to conserve or restore natural processes and functions, the natural system needs to be well understood. This technical guideline provides a guide to better understand the coastal system, to know what processes to consider and what ex…
This technical guideline discusses the application of permeable structures as a close-to-nature and sustainable solution to increase sedimentation along eroded coastlines to allow re-colonisation of mangroves and thus a stabilization of the intertidal area. Mangrove recolonization using permeable structures is currently being applied in Central Java (Indonesia), in the Mekong Delta (Vietnam,…
This guideline is part 3 of a series of Technical Guidelines on technical and socio-economic Building with Nature measures that, in combination, help to restored eroding tropical mud coasts. They bring together experiences and lessons learned from the Building with Nature Indonesia programme which restores eroding tropical muddy coasts. These guidelines are based on insights and lessons learned…
This guideline is part of a series of Technical Guidelines on technical and socio-economic Building with Nature measures that, in combination, help to restore eroding tropical muddy coasts. These guidelines are based on insights and lessons learnt during the implementation of a district scale pilot in Central Java as part of the Building with Nature Indonesia programme. By sharing our lessons …
Isu degradasi mangrove semakin mengemuka seiring menurunnya fungsi ekosistem penting yang disediakannya, seperti perlindungan pesisir, dukungan perikanan, serta peran dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Berbagai upaya restorasi mangrove telah dilakukan, namun pendekatan konvensional melalui penanaman sering kali belum berhasil mengembalikan fungsi ekosistem secara optimal. Berangkat da…
Perbaikan saluran dan relokasi substrate merupakan salah satu pendekatan utama dalam kegiatan rehabilitasi mangrove. Kedua komponen tersebut termasuk dalam metode perbaikan hidrologi. Kondisi ekosistem mangrove yang rusak perlu mendapatkan stimulan melalui tindakan intervensi guna menunjang percepatan dalam pengembalian fungsi hidrologi itu sendiri. Perbaikan hidrologi perlu dilakukan dengan…
Keberhasilan restorasi mangrove dalam skala besar memerlukan pergeseran paradigma dari sekadar penanaman bibit menuju pendekatan yang lebih holistik dan terencana. Tulisan ini mengulas implementasi pendekatan Restorasi Ekologis Mangrove (Ecological Mangrove Restoration/EMR) yang dikembangkan oleh IUCN Mangrove Specialist Group sebagai solusi atas kegagalan metode konvensional. Melalui program "…
Restorasi mangrove seringkali menghadapi tantangan kegagalan akibat intervensi yang hanya berfokus pada penanaman bibit secara teknis tanpa mempertimbangkan kondisi ekologis dan sosial. Buku ini memaparkan inisiatif Wetlands International melalui program "To Plant or Not To Plant" (TPNTP), sebuah program global berdurasi tiga tahun yang menargetkan rehabilitasi 30.000 hektar mangrove di 10 nega…
Laporan hasil kajian sebaran lahan gambut di Kalimantan ini disertai dengan kajian lahan gambut di Sumatera serta gabungan dari keduanya. Kedua buku yang pertama disebutkan, disajikan dalam bentuk Atlas yang berisi himpunan peta-peta yang menggambarkan penyebaran lahan gambut dan kandungan karbon, sedangkan yang terakhir berisikan informasi mengenai kondisi fisik-kimia lahan rawa gambut dan cad…
Lahan gambut di Papua mempunyai tingkat kematangan ‘Fibrik’ (belum melapuk/ masih mentah), ‘Hemik’ (setengah melapuk), ‘Saprik (sudah melapuk/ hancur) dan/ atau campuran dengan salah satu atau ketiganya. Ketebalan gambut di Papua bervariasi mulai dari sangat dangkal (